Sabtu, 28 Maret 2015

Rekreasi ke Perpustakaan yukk...!!



Ngomong-ngomong soal perpustakaan.. perpustakaan mana saja yang sudah anda kunjungi??
                Jogja terkenal dengan kota pelajar, bisa dibayangkan pasti memiliki  koleksi buku yang lengkap dan jogja juga banyak penerbitan. Jika sedang berada di jogja rasanya kurang lengkap kalau belum menjelajahi perpustakaannya . di jogja masih kental dengan adat dan kebudayaannya begitu pula dengan manuskrip-manuskrip tua yang telah ditinggalkan oleh pahlawan kita maupun oleh bangsa lain. Nah, Saya punya referensi perpustakaan yang bagus untuk dijadikan rekreasi baca nih shobat..khususnya untuk naskah-naskah zaman terdahulu .. ,sekarang mungkin banyak perpustakaan yang telah berdiri denga koleksi –koleksi terbarunya. Perpustakaan-prpustakaan ini beda dengan perpustakaan umum lainnya. Salah satu perpustakaan yang menyimpan manuskrip-manuskrip tua itu adalah perpustakaan Balai Bahasa dan perpustakaan sono budoyo.  Mereka terkenal dengan koleksi bahan pustaka maupun naskah atau manuskripnya yang sudah sangat tua.
Pertama-tama saya akan uraikan carita saya ketika berkunjung ke perpustakaan Balai Bahasa.  Perpustakaan Balai Bahasa terletak di jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta. Bangunan perpustakaan ini masih khas dengan gaya bangunan Belanda, maklumlah perpustakaan ini sudah lumayan berumur. Perpustakaan Balai Bahasa yaitu perpustakaan khusus bahasa dan kesusasteraan, yang di dominasi oleh bahan pustaka tentang kebudayaan jawa, kesenian dan sosiologi. Jenis koleksi yang ada dalam perpustakaan ini antara lain yaitu ada buku, hasil penelitian, makalah (e-makalah), skripsi, tesis, disertasi, manuskrip (asli, transliterasinya dan juga e-manuskripnya), kamus, glosarium, tesaurus, ensiklopedi, jurnal cetak maupun elektronik, majalah, kliping cetak maupun elektronik, bahan non buku  ( CD audio/ Video) dan juga terdapat peta bahasa. Manuskrip-manuskrip yang ada dalam perpustakaan ini mulai berkisar dari tahun 1300-an yaitu baik naskah yang bertuliskan carik atau dengan kata lain bisa disebut dengan tulis tangan maupun naskah jawa cetak.  130 naskah manuskrip asli tulisan tangan orang terdahulu tentang sejarah dan kesusasteraan dan 250 koleksi jawa cetak.  Sistem pengolahan di dalam perpustakaan Balai Bahasa masih mengikuti yang dulu-dulu. Yaitu diolah seperti biasanya diurutkan dengan angka-angka dan ditempatkan di rak tapi dimasukkan ke dalam koleksi referensi yang tidak boleh dipinjam. (foto)
  


Sistem pelayanan perpustakaan Balai Bahasa menggunakan sistem layanan tertutup. Yaitu pemustaka tidak diperkenankan mengambil koleksi tersendiri  melainkan diambilkan oleh petugas jika ingin membacanya. Namun untuk membaca koleksi yang ada di perpustakaan ini ada tata caranya tersendiri , hal ini dilakukan dalam rangka untuk preservasi koleksi. Pemustaka hanya menyerahkan kode koleksi dari katalog kepada petugas. Katalog yang di gunakan dalam perpustakaan ini ada dua jenis yaitu katalog elektonik (opac) dan katalog kartu yang di taruh dalam sebuah rak yang diurutkan berdasarkan abjad pengarang. 


Perpustakaan ini juga menyediakan jasa layanan fotokopi  namun hanya saja tidak berlaku untuk koleksi manuskrip atau koleksi langka. Perpustakaan ini juga di lengkapi dengan ruangan-ruangan atau bahasa kerennya itu corner-corner para sastrawan terdahulu, misalnya corneer Sultan Ali Syahbana, ruangan ini berisi tentang karya-karya sultan Ali syahbana. Begitupun dengan yang lainnya. Walaupun perpustakaan ini bersifat tertutup, semua khalayak umum dpat mengakses layanan perpustakaan ini lho.. dan tidak perlu menjadi anggota perpustakaan, cukup dengan mengisi buku tamu. Pelayanan perpustakaan ini seperti jam kerja biasanya yaitu hari senin-jum’at buka mulai dari jam 08.00-15.30.. soo jangan lewatkan ya untuk mengunjungi perpustakaan ini.
Tidak cukup di perpustakaan Balai Bahasa, saya juga merekomendasikan perpustakaan yang pernah saya kunjungi juga yaitu perpustakaan Sono Budoyo. Perpustakaan Sono Budoyo berada di dalam museum Sono Budoyo yaitu yang terletak di bagian utara alun-alun utara dari Keraton Yogyakarta.  Perpustakaan ini  berdiri sejak tahun 1939 yang pada awalnya sebagai pelengkap museum Sono Budoyo . perpustakaan Sono Budoyo menyimpan koleksi buku-buku kurang lebih 20.000 buku dengan 14.000 judul buku. Selain buku-buku tersebut, perpustakaan Sono Budoyo juga menyimpan bundel-bundel Majalah Jawa, Kejawen, Pusaka sunda, Pusaka Jawa, Pustaka Panji  terbitan tahun 1921 sampai tahun 1940. Perpustakaan ini terbagi menjadi dua lantai yaitu lantai kedua khusus menyimpan Naskah-naskah kuno dan lantai tiga menyimpan koleksi bahan pustaka kuno yang di dominasi oleh koleksi peninggalan Belanda. Di dalam perpustakaan ini kurang lebih menyimpan 800 buah manuskrip kuno dengan bahasa jawa dan akasara jawa. Sistem pelayanan perpustakaan Sono Budoyo sama dengan sistem pelayanan perpustakaan Balai Bahasa yaitu sistem layanan tertutup.  
Untuk yang lantai dua yaitu yang khusus naskah, di sini pengunjung tidak di perkenankan mengambil gambar ataupun memotret di sekitar ruangan ini. Pengunjung wajib mengisi buku tamu dan jika pengunjung ingin mengetahui, memegang ataupun membaca naskah asli, maka pengunjung wajib lapor ke petugas supaya dapat di ambilkan naskahnya. Dalam membaca naskah disini juga ada ketentuannya yaitu dengan meletakkan naskah di atas bantal yang telah disediakan. Tapi jika hanya ingin membacanya saja tanpa memerlukan memegang naskahnya, pegunjung dapat membaca naskah lewat komputer, karena semua naskah telah di digitalisasikan. Hal ini di lakukan sebagai wujud preservasi dari naskah-naskah tersebut. Naskah hanya boleh di baca di ruang baca dan tidak boleh di pinjam. Biasanya setiap pengunjung dapat bimbingan langsung dari petugas. Naskah-naskah yang ada disini masih asli semua dan belum ada yang dialih bahasakan.
Lanjut naik sedikit yukk shobat yakni menuju lantai tiga, lantai tiga ini khusus berisi tentang koleksi bahan pustaka baik peninggalan bangsa lain maupun peniggalan dari bangsa sendiri. Namun disini koleksi bahan pustakanya di dominasi oleh koleksi bahan pustaka Belanda yang masih asli dan belum di alih bahasakan. Koleksi-koleksi ini berkisar dari tahun 1800-an. Sedangkan untuk koleksi yang dari indonesia sendiri yaitu berkisar dari tahun 1900-an. Dalam perpustakaan ini petugasnya bukan seorang pustakawan melainkan petugas perpustakaan biasa. Petugas perpustakaan di lantai tiga ini di isi oleh tiga orang petugas, salah satunya yang saya kenal yaitu Bu Bramaswari. Sistem katalog dalam perpustakaan ini yaitu masih menggunakan katalog kartu dan belum menggunakan opac. Katalog di urutkan berdasarkan abjad pengarang. Untuk  sistem pelayanan perpustakaan ini sama seperti yang saya sebutkan diatas yaitu sistem layanan tertutup. Namun bedanya yang di lantai tiga ini di perbolehkan memotret dan mengkopi koleksinya oleh petugasnya. Tapi untuk membaca koleksi tetap melapor petugas dahulu agar di ambilkan koleksinya. Selain memotret koleksi yang ada di lantai tiga ini juga melayani jasa fotokopi dengan lapor ke petugasnya dan nantinya akan dikopikan oleh petugasnya keluar. Sama seperti dengan perpustakaan Balai Bahasa, perpustakaan Sonobudoyo terbuka untuk khalayak umum. Jam layanannya yakni hari senin-jum’at dari jam 07.30 sampai jam 16.00.   
 foto kartu katalog koleksi bahan pustaka peninggalan Belanda dan Indonesia

Nah begitulah cerita saya ketika melakukan rekreasi perpustakaan yang ada di Yogyakarta. Perpustakaannya menarik-menarik dan sayang di lewatkan untuk di kunjungi..soo.. mari shobat kunjungi perpustakaan perpustakaan ini sebagai tempat rekreasi intelektual..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar