Ketika teman-temanku sudah yakin dan aku belum
Pada suatu malam kami berencana untuk
penggalangan dana untuk korban bencana gepa aceh, tepatnya pada malam mingg
tanggal 10 desember 2016. Saya bersama teman-teman saya satu organisasi, pada
malam itu kira-kira berjumlah kurang dari 15 anak. Kami kumpul di depan poli
kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kumpul dari sejak setelah maghrib dan
isya’ tepat kami cuss berangkat menuju 0km untuk menggalang dana tersebut. Kami
berangkat dengan motor berbonceng-boncengan. Di jalan kami terpisah-pisah
hingga dipisahkan oleh kemacetan yang melanda. Di jalan kusuma negara kami
terkena macet total, mungkin akibat dari malam minggu dan dua hari menjelang
berakhirnya sekaten di jogja. Sehingga orang membludak untuk keluar, hal ini
juga di dukung karena cuaca tidak hujan yag biasanya hujan. Kemacetan semakin
malam semakin parah hingga saya bersama teman boncengan saya mbak islah balik,
menghindar dari kemacetan itu, untuk mencari jalan lain. Berdasarkan kesepakatan
dengan teman saya yang lain yang kebetulan waktu itu bersama kami. Pada mulanya
kami mengikutinya biar tidak terpisah dengan yang lain, karena posisinya saya
dan mbak islah tidak membawa kardus untuk penggalangan dana tersebut, dan teman
partner kami yang membawanya tiga, mereka berdua laki-laki, anggap saja namanya
Sai dan Zay. Namun setelah kesepakatan kami untuk mundur dari kemacetan itu
terjadi salah paham sehingga kami berempat terpisah. Saya dan mbak islah
bingung karena kita tidak membawa kardus satupun, kiranya kita akan bareng dan
tidak terpisah begini.
Saya dan mbak islah akhirnya mencari
jalan lain dan akhirnya kami sampai di alkid (alun-alun kidul). Kami ke sana
dengan petunjuk jalan dari aplikasi google map.
“ kita penggalangan dana di sini aja po
mbak lus ?” tanya mbak islah
“ boleh, tapi kita kan ndak bawa kardus
mbak islah, kardusnya semua dibawa Sai dan Zay.” Kataku yang masih duduk di
atas motor bersama mbak islah
“oh iya ya.. terus gimana ini? Kog bisa
tadi terpisah sih,, tadi seharusnya minta kardus dulu ya kalau tahu gini” gumam
mbak islah yang sudah mulai emosi karena kemacetan tadi
“ tadi ndak kepikiran terpisah sih jadi
ndak minta, coba W.A Sai atau Zay, aku ndak ada sinyal e”. Jawabku yang juga
bingung mau gimana lagi.
Akhirnya kami mengabari Sai dan Zay yang
awalnya bersama kita tadi namun akhirnya terpisah di kemacetan tadi. Lama ndak
ada kabar akhirnya kita memutuskan untuk mencari jalan tikus dari alkid menuju
altar, lumayan macet namun tidak semacet yang di jalan kusuma negara tadi yang
memang sudah tidak bisa bergerak kecuali mundur. Setelah beberapa menit
akhitnya kami sampai di altar dengan perjuangan kami. Ami sampai sekitar pukul
10 malam, kami parkir depan sekaten dan mencoba jalan kaki menuju 0km. Namun setelah
kami mencoba dengan jalan kaki pun tidak bisa lewat, kita benar-benar tidak
bisa gerak, walaupun dengan berjalan kaki. Maceeeet total..
“ gimana ini mbak lus kita ndak bisa
gerak, gimana mau nyampe ke 0km, aku sudah lelah, haus, mana badan kurang fit
juga” gumam mbak islah yang mulai kesal dengan keadaan
“ yaudah mbak islah kita balik aja po? Di
sini kita juga ndak bisa gerak ataupun istirahat”. Kataku yang juga dlam
keadaan kurang fit juga, batuk-batuk dan flu
Di tengah keramaian, yang dari tadi hanya
mendengar omelan orang-orang akibat macet dan juga pengumuman barang kehilangan
yang terus menerus tanpa jhenti di sekaten.
Akhirnya kita memutuskan untuk balik lagi ke alkid, takutnya juga kalau
kita di susul Sai dan Zay, dan ternyata benar setelah mau balik kita dapat
kabar dari mereka bahawa mereka sudah di Alkid.
Kita kembali menuju alkid dengan lancar
tanpa macet alhamdulillah. Sesampainya di Alkid kami bertemu Sai dan Zay,
mereka sudah menggalang dana walaupun hasilnya tak sebanyak yang lainnya. Yang lainnya
berhasil menggalang di 0km. Kami juga bingung mereka lewat manaaa ???,
setidaknya kami sudah berusaha juga namun terhalang kemacetan yang super duper
menguras tenaga dan emosi.
Setelah bertemu Sai dan zay akhirnya kami
diskusi santai sambil menikmati wedang ronde yang hangat, lumayan untuk meredakan
tenggorokan yang sedari tadi batuk-batuk terus. Kami memulai diskusi ringan
membahas tentang masa depan, bakal lanjut kemana? Mau lanjut S2 kah ? cari
beasiswakah? Apa yang sudah di lakukan untuk usaha tersebut? Kami kupas satu
persatu. Melihat teman-teman yang begitu mantap akan tujuan mereka membuatku
iri, jujur, bisa dikatakan aku belum
mantap akan lanjut atau tidak walaupun keinginan untuk lanjut S2 sangat besar. Namun
keadaan yang memaksaku untuk bimbang. Bisa dikatakan juga usahaku belum sekeras
temen-temen yang lainnya, yang mana saat ini mereka sudah memulai kursus,
mengikuti perkembangan beasiswa tersebut dan berbagai event diikuti mereka. Sedangkan
aku masih dalam keadaan yang bisa disebutkan belum ada apa-apanya di banding
dengan mereka, namun akupun bukan berarti ndak ada usahanya, aku juga berusaha
namun tak sebesar usaha temen-temen yang lainnya, seperti itu jelasnya. hehe. Begitupun
mbak islah, dalam hal ini temanku yang cantik ini juga bingung dan bimbang akan
masa depannya nanti seperti apa? Akupun sama, kita sering diskusi bareng di kos
membahas masalah ini. Kami tinggal satu kos, yang dinamakam kos mewah, mepet
sawah maksudnya :D
Namun seperti apa nantinya kita juga
tidak putus asa dalam berdoa dan berusaha,, tetap figting, luruskan pandangan ke
depan, menoleh jika perlu, namun jangan berbalik,,
Semoga kita selalu mendapatkan
petunjuk-Nya dalam melangkah dan menentukan pilihan.. semangat kawan-kawan..
ayoo kita mulai berjuang bersama-sama ;
Selamat berusaha, selamat beraktivitas,
awalilah dengan basmalah, niat dan senyum ..