Rabu, 27 Mei 2015

Inilah Kerennya anak Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga



PAMERAN LITERASI DAN BUDAYA 2015

Haloo kawan, berjumpa lagi dengan tulisan saya.. kali ini saya akan menceritakan kegiatan saya sebagai mahasiswa Ilmu Perpustakaan.
Tanggal 26-27 Mei kemarin Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta baik yang S1 maupun D3 mengadakan event yang sangat luar biasa yaitu Pameran Literasi dan Budaya. Pameran ini adalah acara rutinan tiap tahun dan diadakan satu tahun sekali setiap diakhir semester genap.Berawal dari ide dan sekarang menjadi kegiatan yang luar biasa. Acara ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah IDKS (Informasi dalam Konteks Sosial). Nah kali ini pameran Literasi dan Budaya  mengungkit tema “dolanan tradisional”. Mengapa dolanan trdisional? Karena pada era sekarang permainan tradisional hampir punah karena tidak dibudayakan oleh anak-anak zaman sekarang. Anak-anak zaman sekarang sudah marak dengan yang namanya ketergantungan gadget, mereka lebih suka permainan yang disediakan dalam gadget mereka masing-masing. Teknologi memang memberikan pengaruh yang kuat teradap manusia, namun tidak semuanya berpengaruh negatif , Nah agar budaya tidak tergerus oleh perkembangan teknologi, kita sebagai mahasiswa ilmu perpustakaan yang nantinya akan menjadi pengelola informasi mengadakan pameran tentang dolanan anak sebagai wujud pelestarian budaya dan pengenalan kembali terhadap anak-anak bangsa akan budaya yang dimiliki oleh negara Indonesia. 

Dalam acara pameran ini terdiri dari 10 stand, 8 stand dari mahasiswa ilmu perpustakaan yang sedang mengambil mata kuliah IDKS dan 2 stand lagi dari prodi Ilmu Perpustakaan S1 dan Ilmu Perpustakaan dan Informasi D3. Masing-masing Stand menyuguhkan tema yang berbeda-beda namun tetap dalam lingkup yang sama yaitu mengungkit tentang dolanan anak tradisional. Antara lain yaitu stand permainan jamuran, stand permasinan cublak-cublak suweng, stand permainan jelangkung, stan permainan dingklik oglak-aglik dan masih banyak stand permainan lainnya.
Nah Stand saya adalah Stand nomor 2 dengan mengambil tema “Nguri-uri Dolanan Jawi JAMURAN”. Permainan jamuran adalah permainan yang diperkenalkan oleh salah satu tokoh walisongo yaitu Sunan Giri. Cara permainannya yaitu dimainkan secara beramai-ramai dengan posisi membentuk lingkaran , misalkan ada 10 orang yang bermain. Setelah it hompimpa  bareng-bareng dan yang kalah akan “dadi”/jaga/umpan . Nah anak yang “dadi” tadi, duduk ditengah-tengah lingkaran. Dan anak-anak yang membentuk lingkaran, bersama-sama menyanyikan lagu Jamuran. Setelah lagu selesai dengan diakhiri  kata “ semprat-semprit jamur opo” (disetiap daerah lagu jamuran ini berbeda-beda), maka anak yang “dadi” tadi menyebutkan salah satu  “jamur” yang diinginkan pemain “dadi” (disini bukan berarti jenis jamur sesungguhnya, akan tetapi bentuk permainannya). Misalkan “jamur gagak”. Maka anak-anak yang melingkar dan bernyanyi tadi menirukan suara burung gagak dengan gerkan seperti burung gagak juga tapi tidak boleh tertawa jika tertawa akan “dadi”, dan tugas pemain “dadi” adalah menggoda para anak-anak yang menirukan burung gagak tadi supaya ketawa, dan yang etawa tadi akan menggantikan perannya sebagai pemain “dadi”. Dan begitu seterusnya sesuai dengan “jamur” apa yang diminta oleh anak yang dadi. Filosofi dari permainan ini yaitu kebersamaan dan kedisiplinan. Dalam hidup beragama dan bernegara kita dituntut untuk disiplin dan taat peraturan terhadap apa yang telah ditentukan karena hidup itu penuh dengan aturan seperti yang telah diajarkan pada permainan jamuran ini kita harus taat pada apa yang ditetapkan pemain “dadi”.

Pameran ini diadakan dalam waktu dua hari secara berturut-turut yaitu tanggal 26-27 Mei 2015 dan  dimulai dari jam 09.00 -16.00 WIB yang bertempat di Gelanggang Teater Eska Kampus Timur UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Berikut adalah rangkaian acaranya, di simak ya.. 

Hari Pertama... Selasa 26 Mei 2015
Pada hari pertama pameran ini berawal dari pembukaan. Acara ini di buka langsung oleh dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu bapak Zamzam Afandi. Setelah itu dilanjutkan dengan kunjungan anak-anak TK dan PAUD. Disinilah saya merasa senang karena dapat menyampaikan permainan tradisional kepada anak-anak. Stand kami mengajak anak-anak bermain jamuran, dan anak-anak sangat tertarik dengan permainan itu. Disaat inilah keringat saya gembrobyos karena sangking asyiknya bermain bersama anak-anak. Hehe mereka semua lucu-lucu. Setelah itu dilanjutkan dengan acara Show And Tell. Show and tell diikuti oleh 11 peserta, alurnya yaitu para peserta maju kedepan panggung menampilkan dan bercerita tentang sesuatu yang ada di perpustakaan dengan bahasa inggris. Misalnya serial room, MPK, book drop dll. Setelah itu acara selanjutnya yaitu penampilan spontan dari setiap stand. Pada sesi ini sangat seru, karena kita disuruh menampilkan sesuatu secara spontan, bagusnya anak Ilmu Perpustakaan banyak yang memiliki talent-talent yang menarik, antara lain ilmu bela diri, menari, menyanyi dll. Semuanya berlangsung dengan gembira ria.:D

  
Hari kedua... Rabu 27 Mei 2015-05-28
pada hari kedua kunjungan kita banyak dari kalangan mahasiswa dan bukan hanya UIN saja namun dari UGM pun juga ada, reporter juga tidak melewatkan acara ini. Terbukti acara ini tampil di liputan 6 SCTV lhooo... saya bangga bisa masuk TV hahaha bisa mengenalkan budaya kepa anak-anak yaitu dengan bermain jauran bersama anak-anak.
Acara kedua ini terdapat talk show dari bapak Bambang Nur Singgih dan Bapak Kelik dengan bahasan tema “pelestarian budaya lokal” moderator saudara Fuad Wahyu Prabowo. Bapak Bambang dan bapak Kelik adalah sastrawan jawa. Penyampaian materipun di lakukan dengan bahasa jawa, sangat menarik untuk di simak. Selanjutnya menginjak acara terakhir yang paling menegangkan karena ada pengumuman stand terbaik. Dagdigdug rasanya menanti siapa pemenangnya,, berharap juara satu tapi sayang stand kita belum beruntung hehe.. tapi tak apa walaupun belum menjadi juara kata dosen kita yaitu bu Laibah kita semua sudah sangat LUAR BIASAa....
Merci Beaucoup untuk prodi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Terimakasih untuk para Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dan terima kasih untuk Bu Labibah Dosen yang paling kece telah membimbing dan mengampu dalam mata kuliah IDKS ...
Dan tak lupa tanks for teman-teman Ilmu Perpustakaan.. :)

Selasa, 28 April 2015

hak cipta, karya cipta, dan perpustakaan???



Hak Cipta?
Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata hak cipta?
Di blog saya ini, akan saya jelaskan seklumit pengetahuan saya mengenai hak cipta, so jangan bosen ya kawan untu berkunjung ke blog saya.. hehe ikuti terus tulisan saya.. cekidoot..
Menurut Undang-Undang Hak Cipta tahun 2002 Nomor 19 pasal 1 ayat 1 mendefinisikan Hak Cipta adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan yang berlaku". Hak eksklusif di sini diartikan bahwa tidak boleh ada pihak lain yang yang mengumumkan atau memperbanyak suatu karya cipta yang telah dipatenkan atau dilindungi oleh hak cipta tanpa seizin penciptanya, terlebih yang bersifat komersil.
Selanjutnya dalam pasal 1 ayat 2 menjelaskan bahwa pencipta adalah "seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, ketrampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi". Pencipta bisa seseorang atau beberapa orang, lembaga atau instansi, badan hukum, dan Negara.
Bagaimana hak cipta di perpustakaan?
Berbicara hak cipta di perpustakaan, tidak terlepas dari kebebasan mendapat informasi atau lebih sering dikenal dengan open acces.  Kebanyakan orang berpikir kalau di perpustakaan adalah gudang suatu informasi karena menyimpan banyak buku dari berbagai bidang yang dapat diambil ilmunya. Mayoritas orang jika datang ke perpustakaan pasti berharap dapat menemukan informasi yang mereka inginkan. Tapi pernahkah Anda berpikir tentang hak cipta di perpustakaan?. Disadari atau tidak “gudang informasi” ini menyimpan potensi untuk melekukan pelanggaran mengenai hak cipta suatu karya. Bagaimana tidak? Semua orang yang datang ke perpustakaan selalu menginginkan mendapat informasi bagaimanapun caranya karena tempat ini adalah tempat untuk mendapatkan informasi, dengan alasan hak untuk memperoleh informasi. Sering kali mereka tidak perduli terhadap pelanggaran hak cipta. Misalnya memfotokopi buku tanpa seizin penulisnya baik satu lembar ataupun seluruh isi buku. Hal ini sering terjadi karena dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pengguna untuk memperoleh informasi atau open access.
Namun walaupun pelanggaran hak cipta sangat rentan di perpustakaan. Biasanya perpustakaan tidak akan membiarkan semena-mena pelanggaran itu terjadi. pada sebagian perpustakaan tidak menyediakan sarana fotokopi di ruang perpustakaan. Hal ini dilakukan untuk mencegah pelanggaran hak cipta. Akan tetapi biasanya jika buku-buku yang menyangkut pendidikan, perpustakaan biasanya akan mengijinkan atau membolehkan pemustakanya untuk menyalin guna untuk pendidikan. Dalam Pasal 15 (e) UU No. 19 Tahun 2002 disebutkan : “perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan dan pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya”.  
Selain itu dalam undang-undang terbaru yakni undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta pasal 47 membolehkan perpustakaan atau lembaga arsip untuk menyalin satu dari suatu karya ciptaan tanpa izin dari pencipta atu pemegang hak cipta dengan tujuan tidak komersial. Bunyinya yakni “Setiap perpustakaan atau lembaga arsip yang tidak bertujuan komersial dapat membuat 1 (satu) salinan Ciptaan atau bagian Ciptaan tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dengan cara:
  1. Penggandaan tulisan secara reprografi yang telah dilakukan Pengumuman, diringkas, atau dirangkum untuk memenuhi permintaan seseorang
  2. pembuatan salinan dilakukan untuk pemeliharaan, penggantian salinan yang diperlukan, atau penggantian salinan dalam hal salinan hilang, rusak, atau musnah dari koleksi permanen di perpustakaan atau lembaga arsip lain
  3. pembuatan salinan dimaksudkan untuk Komunikasi atau pertukaran informasi antarperpustakaan, antarlembaga arsip, serta antara perpustakaan dan lembaga arsip.”
Tapi ingat teman-teman peraturan untuk menyalin itu hanya diperbolehkan untuk suatu lembaga arsip ataupun perpustakaan. Dan untuk masyarakat tidak diperbolehkan mengkopi atau menyalin suatu karya sembarangan tanpa izin pencipta. Karena ini dapat menyebabkan sanksi yang fatal. Bagi kalian yang suka mengkopi buku sembarangan jika ketahuan melanggar maka kalian akan dikenakan penjara minimal 2 tahun dan maksimal 7 tahun selain itu juga dikenakan denda dari 750 juta hingga 5 milliar. Nah bukan main kan hukumannya. Maka dari itu yukk kita hargai karya seseorang dengan mematuhi hak cipta.. jadi jangan sembarang mengkopi suatu karya tanpa ijin penciptanya ya...
Di dalam Undang-Undang Hak Cipta tahun 2002 Nomor 19 pasal 12 ayat 1 Ada beberapa penggolongan suatu karya cipta yang bisa dilindungi oleh hak cipta, antara lain:
a.       buku,  program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
b.      ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
c.       alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
d.      lagu atau musik dengan atau tanpa teks.
e.       drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantmim
f.       seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni atung, kolase, dan seni terapan;
g.      arsitektur
h.      peta
i.        seni batik
j.        fotografi
k.      sinematografi
l.        terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.
Keberadaan Hak Cipta ini dimaksudkan untuk mencegah pihak lain agar tidak mengambil keuntungan dari suatu ciptaan tanpa sepengetahuan penciptanya secara tidak jujur.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian semua... see you di tulisan berikutnya.. :)

Sabtu, 28 Maret 2015

Rekreasi ke Perpustakaan yukk...!!



Ngomong-ngomong soal perpustakaan.. perpustakaan mana saja yang sudah anda kunjungi??
                Jogja terkenal dengan kota pelajar, bisa dibayangkan pasti memiliki  koleksi buku yang lengkap dan jogja juga banyak penerbitan. Jika sedang berada di jogja rasanya kurang lengkap kalau belum menjelajahi perpustakaannya . di jogja masih kental dengan adat dan kebudayaannya begitu pula dengan manuskrip-manuskrip tua yang telah ditinggalkan oleh pahlawan kita maupun oleh bangsa lain. Nah, Saya punya referensi perpustakaan yang bagus untuk dijadikan rekreasi baca nih shobat..khususnya untuk naskah-naskah zaman terdahulu .. ,sekarang mungkin banyak perpustakaan yang telah berdiri denga koleksi –koleksi terbarunya. Perpustakaan-prpustakaan ini beda dengan perpustakaan umum lainnya. Salah satu perpustakaan yang menyimpan manuskrip-manuskrip tua itu adalah perpustakaan Balai Bahasa dan perpustakaan sono budoyo.  Mereka terkenal dengan koleksi bahan pustaka maupun naskah atau manuskripnya yang sudah sangat tua.
Pertama-tama saya akan uraikan carita saya ketika berkunjung ke perpustakaan Balai Bahasa.  Perpustakaan Balai Bahasa terletak di jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta. Bangunan perpustakaan ini masih khas dengan gaya bangunan Belanda, maklumlah perpustakaan ini sudah lumayan berumur. Perpustakaan Balai Bahasa yaitu perpustakaan khusus bahasa dan kesusasteraan, yang di dominasi oleh bahan pustaka tentang kebudayaan jawa, kesenian dan sosiologi. Jenis koleksi yang ada dalam perpustakaan ini antara lain yaitu ada buku, hasil penelitian, makalah (e-makalah), skripsi, tesis, disertasi, manuskrip (asli, transliterasinya dan juga e-manuskripnya), kamus, glosarium, tesaurus, ensiklopedi, jurnal cetak maupun elektronik, majalah, kliping cetak maupun elektronik, bahan non buku  ( CD audio/ Video) dan juga terdapat peta bahasa. Manuskrip-manuskrip yang ada dalam perpustakaan ini mulai berkisar dari tahun 1300-an yaitu baik naskah yang bertuliskan carik atau dengan kata lain bisa disebut dengan tulis tangan maupun naskah jawa cetak.  130 naskah manuskrip asli tulisan tangan orang terdahulu tentang sejarah dan kesusasteraan dan 250 koleksi jawa cetak.  Sistem pengolahan di dalam perpustakaan Balai Bahasa masih mengikuti yang dulu-dulu. Yaitu diolah seperti biasanya diurutkan dengan angka-angka dan ditempatkan di rak tapi dimasukkan ke dalam koleksi referensi yang tidak boleh dipinjam. (foto)
  


Sistem pelayanan perpustakaan Balai Bahasa menggunakan sistem layanan tertutup. Yaitu pemustaka tidak diperkenankan mengambil koleksi tersendiri  melainkan diambilkan oleh petugas jika ingin membacanya. Namun untuk membaca koleksi yang ada di perpustakaan ini ada tata caranya tersendiri , hal ini dilakukan dalam rangka untuk preservasi koleksi. Pemustaka hanya menyerahkan kode koleksi dari katalog kepada petugas. Katalog yang di gunakan dalam perpustakaan ini ada dua jenis yaitu katalog elektonik (opac) dan katalog kartu yang di taruh dalam sebuah rak yang diurutkan berdasarkan abjad pengarang. 


Perpustakaan ini juga menyediakan jasa layanan fotokopi  namun hanya saja tidak berlaku untuk koleksi manuskrip atau koleksi langka. Perpustakaan ini juga di lengkapi dengan ruangan-ruangan atau bahasa kerennya itu corner-corner para sastrawan terdahulu, misalnya corneer Sultan Ali Syahbana, ruangan ini berisi tentang karya-karya sultan Ali syahbana. Begitupun dengan yang lainnya. Walaupun perpustakaan ini bersifat tertutup, semua khalayak umum dpat mengakses layanan perpustakaan ini lho.. dan tidak perlu menjadi anggota perpustakaan, cukup dengan mengisi buku tamu. Pelayanan perpustakaan ini seperti jam kerja biasanya yaitu hari senin-jum’at buka mulai dari jam 08.00-15.30.. soo jangan lewatkan ya untuk mengunjungi perpustakaan ini.
Tidak cukup di perpustakaan Balai Bahasa, saya juga merekomendasikan perpustakaan yang pernah saya kunjungi juga yaitu perpustakaan Sono Budoyo. Perpustakaan Sono Budoyo berada di dalam museum Sono Budoyo yaitu yang terletak di bagian utara alun-alun utara dari Keraton Yogyakarta.  Perpustakaan ini  berdiri sejak tahun 1939 yang pada awalnya sebagai pelengkap museum Sono Budoyo . perpustakaan Sono Budoyo menyimpan koleksi buku-buku kurang lebih 20.000 buku dengan 14.000 judul buku. Selain buku-buku tersebut, perpustakaan Sono Budoyo juga menyimpan bundel-bundel Majalah Jawa, Kejawen, Pusaka sunda, Pusaka Jawa, Pustaka Panji  terbitan tahun 1921 sampai tahun 1940. Perpustakaan ini terbagi menjadi dua lantai yaitu lantai kedua khusus menyimpan Naskah-naskah kuno dan lantai tiga menyimpan koleksi bahan pustaka kuno yang di dominasi oleh koleksi peninggalan Belanda. Di dalam perpustakaan ini kurang lebih menyimpan 800 buah manuskrip kuno dengan bahasa jawa dan akasara jawa. Sistem pelayanan perpustakaan Sono Budoyo sama dengan sistem pelayanan perpustakaan Balai Bahasa yaitu sistem layanan tertutup.  
Untuk yang lantai dua yaitu yang khusus naskah, di sini pengunjung tidak di perkenankan mengambil gambar ataupun memotret di sekitar ruangan ini. Pengunjung wajib mengisi buku tamu dan jika pengunjung ingin mengetahui, memegang ataupun membaca naskah asli, maka pengunjung wajib lapor ke petugas supaya dapat di ambilkan naskahnya. Dalam membaca naskah disini juga ada ketentuannya yaitu dengan meletakkan naskah di atas bantal yang telah disediakan. Tapi jika hanya ingin membacanya saja tanpa memerlukan memegang naskahnya, pegunjung dapat membaca naskah lewat komputer, karena semua naskah telah di digitalisasikan. Hal ini di lakukan sebagai wujud preservasi dari naskah-naskah tersebut. Naskah hanya boleh di baca di ruang baca dan tidak boleh di pinjam. Biasanya setiap pengunjung dapat bimbingan langsung dari petugas. Naskah-naskah yang ada disini masih asli semua dan belum ada yang dialih bahasakan.
Lanjut naik sedikit yukk shobat yakni menuju lantai tiga, lantai tiga ini khusus berisi tentang koleksi bahan pustaka baik peninggalan bangsa lain maupun peniggalan dari bangsa sendiri. Namun disini koleksi bahan pustakanya di dominasi oleh koleksi bahan pustaka Belanda yang masih asli dan belum di alih bahasakan. Koleksi-koleksi ini berkisar dari tahun 1800-an. Sedangkan untuk koleksi yang dari indonesia sendiri yaitu berkisar dari tahun 1900-an. Dalam perpustakaan ini petugasnya bukan seorang pustakawan melainkan petugas perpustakaan biasa. Petugas perpustakaan di lantai tiga ini di isi oleh tiga orang petugas, salah satunya yang saya kenal yaitu Bu Bramaswari. Sistem katalog dalam perpustakaan ini yaitu masih menggunakan katalog kartu dan belum menggunakan opac. Katalog di urutkan berdasarkan abjad pengarang. Untuk  sistem pelayanan perpustakaan ini sama seperti yang saya sebutkan diatas yaitu sistem layanan tertutup. Namun bedanya yang di lantai tiga ini di perbolehkan memotret dan mengkopi koleksinya oleh petugasnya. Tapi untuk membaca koleksi tetap melapor petugas dahulu agar di ambilkan koleksinya. Selain memotret koleksi yang ada di lantai tiga ini juga melayani jasa fotokopi dengan lapor ke petugasnya dan nantinya akan dikopikan oleh petugasnya keluar. Sama seperti dengan perpustakaan Balai Bahasa, perpustakaan Sonobudoyo terbuka untuk khalayak umum. Jam layanannya yakni hari senin-jum’at dari jam 07.30 sampai jam 16.00.   
 foto kartu katalog koleksi bahan pustaka peninggalan Belanda dan Indonesia

Nah begitulah cerita saya ketika melakukan rekreasi perpustakaan yang ada di Yogyakarta. Perpustakaannya menarik-menarik dan sayang di lewatkan untuk di kunjungi..soo.. mari shobat kunjungi perpustakaan perpustakaan ini sebagai tempat rekreasi intelektual..